This is an example of a HTML caption with a link.

STRATEGI PEMBELAJARAN REMEDIAL

0 komentar



BAB VI
STRATEGI PEMBELAJARAN REMEDIAL
A.    Pengertian Pembelajaran Remedial
Dalam Kamus Bahasa Inggris, kata remedial berarti: yang berhubungan dengan perbaikan. Dengan demikian yang dimaksud dengan pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat perbaikan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik. Dalam belajar mengajar guru melakukan pengajaran dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara optimal. Namun jika ternyata terdapat siswa yang lamban dalam belajar dan prestasi belajarnya rendah maka diperlukan suatu proses belajar mengajar yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan. Pengajaran remedial dilaksanakan setelah diadakan pengajaran biasa (klasikal), dimana siswa (kelompok) yang belum memenuhi standar minimimal yang telah ditentukan pada topik/kompetensi, dikumpulkan tersendiri untuk mendapatkan pengajaran kembali.
Proses pengajaran remedial (PPR) padahakikatnya serupa dengan prosesbelajar mengajar (PBM) biasa.Perbedaannya terutama terletak padadua masalah, yakni: (1) tujuan, dan (2)strategi pendekatan.Tujuan pengajaran remedial diarahkankepada peningkatan (improvement)prestasi baik kualifikasi maupunkuantitatif dari prestasi yang telah ataumungkinoptimal dapat dicapai kalaumenggunakan PBM biasa sehinggasekurang-kurangnya dapat memenuhikriteria keberhasilan minimal yang dapatditerima (minimum acceptableperformance); dan atau peningkatankemampuan penyesuaian kembali(readjusment) baik terhadap dirinyamaupun lingkungannya.
B.     Konsep pokok Pembelajaran Remedial
a.      Kedudukan Pembelajaran Remedial dalam Proses Pembelajaran
Program pembelajaran secara garis besar adalah merupakan serangkaian tindakan yang direncanakan pendidik secara sadar untuk mengubah perilakau awal subjek didik menjadi perilaku baru seperti yang tertuang pada kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai.
Penilaian yang bervariasi bertujuan agar pendidik memiliki data yang memadai untuk membuat keputusan di kelas yang bersangkutan sehingga dapat ditentukan tindak lanjutnya. Lima prinsip umum yang perlu dicermati pendidik sebagai panduan untuk melakukan interpretasi terhadap hasil asesmen adalah (Airasian, 1991) bahwa :
1)      Hasil asesmen hanyalah memberi gambaran tentang status perilaku subjek didik saat penilaian dilakukann.
2)      Hasil asesmen hanya merupakan estimasi bukan indikasi yang eksak tentang kinerja subjek didik.
3)      Asesmen tunggal tidak memadai untuk dipergunakan sebagai dasar membuat keputusan yang penting tentang subjek didik.
4)      Asesmen tidak selalu memberikan informasi yang valid.
5)      Hasil asesmen hanya menggambarkan kinerja subjek didik bukan menjelaskan alasan atau sebab-sebab mengapa kondisinya demikian.

C.    Langakah-langkah Pembelajaran Remedial
Anonim (1999:45), mengatur mengenai langkah-langkah pengajaran remedial sebagai berikut:
1.      Menelaah kembali siswa yang akan diberikan bantuan. Kegiatan ini dimaksudkan agar kita memperoleh gambaran berapa lama bantuan harus diberikan, kapan oleh siapa dan sebagainya.
2.      Alternatif tindakan. Jika sudah mendapat gambaran lengkap. Lalu tentukan alternatif tindakan dapat berupa: disuruh mengulangi bahan yang telah diberikan dengan memberikan arahan terlebih dulu; disuruh mencoba alternatif kegiatan lain yang setara dengan kegiatan belajar mengajar yang sudah ditempuhnya dan mempunyai tujuan yang sama.
Bila kesulitan belajar bukan karena kesulitan belajar, tapi karena faktor lain seperti sikap negatif terhadap guru, situasi belajar dan sebagainya maka siswa perlu dibimbing oleh konselor. Jika sudah mampu mengatasi masalah maka dapat diberi pengajaran remedial.
3.      Evaluasi Pengajaran Remedial
Pada akhir kegiatan siswa diadakan evaluasi. Tujuan paling utama adalah diharapkan 75% taraf pengusaan (level of mastery). Bila ternyata belum berhasil maka dilakukan diagnosis dan memperoleh pengajaran remedial kembali.
4.      Pendekatan Pengajaran Remedial
a.       Pendekatan pencegahan (preventif), dari hasil Pre-test sebelum memulai pengajaran, seorang guru sudah dapat mendeteksi bahwa seorang siswa mungkin akan mengalami hambatan dalam proses belajarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan upaya mengetahui secara tepat perilaku awal siswa, menggunakan pendekatan multi media dan multi metode dalam proses belajar mengajar.
b.      Pendekatan penyembuhan (curative), pendekatan ini diberikan kepada siswa yang sudah nyata mengalami hambatan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Gejala yang terlihat yaitu prestasinya sangat rendah dibandingkan dengan kriteria tingkat keberhasilan yang ditetapkan.
c.       Pendekatan perkembangan (development), pendekatan ini menuntut guru untuk memonitor terus-menerus kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar berlangsung. Setiap ada hambatan segera dan secara terus-menerus. Sehingga dengan demikian guru senantiasa mengikuti perkembangan pada siswanya secara sistematis.

D.    Strategi dan Teknik Pembelajaran Remedial
1.      Strategi dan Pendekatan Pembelajaran Remedial Bersifat Kuratif
Pendekatan ini diadakan mengingat kenyataannya ada seseorang atau sejumlah siswa, bahkan mungkin seluruh anggota kelompok belajar tidak mampu menyelesaikan program secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Program dalam proses itu dapat diartikan untuk setiap pertemuan, unit pelajaran, atau satuan waktu tertentu. Sasaran pokok dari tindakan ini adalah agar siswa yang prestasinya rendah diusahakan dapat suatu saat dapat memenuhi kritetiria keberhasilan minimal. Dan sedangkan siswa yang telah mencapai kriteria keberhasilan minimal, suatu saat dapat diperkaya atau lebih ditingkatkan lagi. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat menggunakan pendekatan: Pengulangan (repetition), Pengayaan (enrichment), Pengukuhan (reinforcement), dan Percepatan (acceleration).
2.      Strategi dan Pendekatan Pembelajaran Remedial Bersifat Preventif
Jika dalam pendekatan kuratif, tindakan rmedial bertolak dari hasil post teaching diagnostic, berdasarkan data hasil pre-test / sumatif, maka pndekatan preventif bertolak belakang dengan pre-test atau test of entering behaviors. Maka siswa dapat diidentifikasikan dalam 3 kategori, yaitu: Siswa normal, Siswa cepat, Siswa lambat.
Dari ketiga perkiraan tersebut, maka setidaknya ada tiga teknik pembelajaran yang bersifat remedial, yaitu:
a.       Layanan Kelompok Belajar Homogen
Program pembelajaran pada ketiga kelompok siswa tersebut, ruang lingkupnya ekuivalen, tetapi diorganissasikan secara relaitf berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada cara menenangkannya, contoh-contohnya, soal-soal / tugas, dsb. Misalnya untuk siswa cepat, tingkat kesukarannya lebih tinggi dari siswa normal dan siswa lambat. Yang terpenting adalah bagaimana kelompok siswa itu dapat meyelesaikan pembelajaran pada waktu yang bersamaan sehingga mereka dapat mengikuti test sumatif pada waktu yang bersamaan
b.      Layanan Pembelajaran Individual
Pada dasarnya konsep ini sama dengan diatas, yaiut penyesuaian dengan kondisi objectif siswa. Pada teknik ini setiap individu mempunyai program tersendiri. Siswa mempunyai kebebasan melakukan kegiatan-kegiatan atau berkonsultasi dengan gurunya, tidak terikat dengan keharusan mengikuti jam belajar seperti biasa di kelas. Siswa hanya terikat pada batas waktu akhir periode pelajaran yang ditetapkan, seperti triwulan, semesteran, dsb. Meskipun siswa belajar individual, tetapi harus mengikuti test sumatif tertentu yang telah diorganisasikan secara baku. Program ini sangat ccocok untuk system pembelajaran dengan modul.
c.       Layanan Pembelajaran Secara Kelompok
Pada teknik ini siswa berada pada satu kelas yang sama dan pada program pembelajaran yang sama pula. Namun bagi siswa yang mempunyai kesulitan tertentu, telah disediakan tempat, waktu untuk pelayanan remedial secara khusus. Begitu juga dengan siswa yang cepat, juga disediakan program pengayaan khusus. Setelah selesai dengan program remedial atau pengayaan, para siswa kembali dalam kelompok belajar utama bersama-sama dengan teman sekelasnya. Pada akhirnya mereka juga harus menempuh post-test atau test sumatif secara bersamaan pula. Teknik ini sesuai bila diterapkan pada system pembelajaran klasikal, dan teknik ini biasa digunakan guru di sekolah walaupun belum dilaksanakan sebagai mana mestinya.
3.      Strategi dan Pendekatan Pembelajaran Remedial Bersifat Pengembangan (Development)
Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung (during teaching diagnostic). Sasaran pokok dari pendekatan ini adalah agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu, diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan agar tujuan pengajaran yang telah dirumuskan berhasil. Sedangkan metode yang digunakan, yaitu: tanya jawab, diskusi, tugas, kerja kelompok, tutor, pengajaran individual.

E.     Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Individual
1.      Tujuan pembelajaran remedial
Secara umum tujuan pembelajaran remedial tidak berbeda dengan pembelajaran biasa, yaitu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Namun secara khusus tujuan Pembelajaran remedial ini adalah agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan sekolah melalui proses perbaikan.Menurut User Usman  dan Lilis Setiawati secara terperinci tujuan pembelajaran remedial adalah:
a.       Siswa memahami dirinya khususnya yang menyangkut prestasi belajar yang meliputi kelebihan dan kelemahannya, jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi.
b.      Siswa dapat mengubah atau memperbaiki cara belajar ke arah yang lebih baik sesuai dengan kesulitan belajar yang dihadapi.
c.       Siswa dapat mengatasi hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya.
d.      Siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajar. Siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan baru yang dapat mendorong tercapainya prestasi belajar yang lebih baik. Siswa dapat mengerjakan tugas  lebih baik.
Dari uraian di atas maka jelaslah bahwa tujuan pembelajaran remedial adalah agar siswa memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehingga ia dapat memperbaiki cara belajarnya ke arah yang lebih baik. Dengan demikian siswa mampu mengatasi hambatan belajarnya yang akan memberi motivasi kepada dirinya untuk mencapai prestasi belajar yang diharapkan.
2.      Fungsi Pembelajaran Remedial
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono mengungkapkan pembelajaran remedial mempunyai fungsi yang penulis sarikan sebagai berikut:
a.       Fungsi korektif, artinya pembelajaran remedial dapat dilakukan dalam pembetulan atau perbaikan dalam hal penulisan tujuan, penggunaan metode, cara-cara belajar, materi dan alat belajar, evaluasi dan sebagainya.
b.      Fungsi pemahaman, artinya pembelajaran remedial, guru dan siswa atau pihak lainnya dapat memperoleh yang lebih baik mengenai pribadinya sendiri.
c.       Fungsi penyesuaian, artinya pembelajaran remedial dapat membentuk siswa yang mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri di lingkungan tempat belajarnya.
d.      Fungsi Pengayaan, artinya pembelajaran remedial dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi lebih luas, lebih banyak dan lebih mendalam dibandingkan dengan pengajaran regular.
e.       Fungsi Akselerasi, artinya pembelajaran remedial dapat mempercepat proses pembelajaran, baik dari segi waktu maupun materi, sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.
f.       Fungsi Therapeutic, artinya secara langsung atau tidak, pembelajaran remedial dapat membantu atau menyembuhkan atau memperbaiki kondisi kepribadian siswa yang menyimpang, sebaliknya pencapaian prestasi belajar dalam pembelajaran juga mempengaruhi pribadi siswa.
Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa fungsi pembelajaran remedial adalah untuk membantu guru dalam mengatasi siswa yang mengalami kesulitan dalam mencapai prestasi belajarnya.
F.     Tahap-tahap Pembelajaran Remedial
a.      Diagnosis
Sebelum melakukan diagnosis untuk menentukan penyebab kegagalan belajar perlu dilakukan analisis hasil belajar untuk menentukan subjek didik yang mengalami kegagalan belajar. Namun sebenarnya sebelum subjek didik yang bersangkutan mengalami kegagalan belajar sebenarnya pendidik dapat mencermati dari gejala-gejala awal seperti :
1.       Subjek didik menunujukan hasil belajar di bawah rata-rata.
2.      Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas dalam kegiatan pembelajaran.
4.      Subjek didik menunujukan tingkah laku yang tidak wajar.
Untuk mengetahui kesulitan belajar, sebagai patokan dapat ditetapkan berdasarkan : tingkat pencapaian kompetensi dasar, kedudukan subjek didik dalam kelompoknya, perbandingan antara potensi dan prestasi subjek didik, dan tingkah laku subjekk didik di sekolah.
Sumber : Depdiknas, 2008. Sistem Penilaian KTSP; Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Remedial. Jakarta: Dir. PSMA

0 komentar

filsafat kurikulum


A.PENDAHUUAN


Filsafat pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami semua hal yang timbul didalam pengalaman manusia.Dengan ini manusia diharapkan dapat mengerti dan mempunyai pandangan menyeluruh dan sistematis mengenai alam semesta dan tempat manusia didalamnya.sesuai dengan makna filsafat yakni berfikir maka manusia menugaskan fikirannya untuk bekerja sesuai dengan aturan.oleh karena bersifat filosofis dengan sendirinya fisafat merupakan suatu sarana analisa terhadap lapangan pendidikan.Pendekatan filosofis terhadap pendidikan merupakan pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan cara filsafat.




Rumusan Masalah


Ø  Tinjauan tujuan filsafat pendidikan ?
Ø  .Hubungan filsafat, ilmu dan ilmu pendidikan?
Ø  Ruang lingkup filsafat dalam pendidikan ?
Ø  Peran filsafat pendidikan islam?
Ø  Implikasi Filsafat terhadap konsep pendidikan dan kurikulum?


A.Tinjauan Filsafat Pendidikan

Filsafat merupakan sejenis pengetahuan yang  berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya  bagi segala sesuatu berdasarkan akal fikiran belaka ,menurut Hasbullah Bakry yang dikutif oleh Ahmad Tafsir mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan  yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan,alam semesta,dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh akal yang dapat dicapai manusia dan bagaimana sikap manusia itu setelah mencapai pengetahuan.[1]

Dapat dikatakan bahwa masalah pendidikan merupakan masalah kehidupan manusia.pendidikan sebagai sebuah proses, berada dan berkembang bersama dengan proseses perkembangan berlangsung, dalam kehidupan manusia bahkan kedua proses itu adalah satu.pendidikan identik dengan perkembangan manusia sendiri .kajian fisafat pendidikan islam berangkat dari kajian fisafat yang termuat dalam AL-QUR’AN dan hadits yang telah diwujudkan oleh Rasul Allah saw sepanjang hayat beliau,dengan demikian filsafat pendidikan itu berkembang menyertai turunya wahyu Allah  dan kehidupan Rasul saw.[2]

Menurut Jhon Dewey seorang filosof Amerika yang dikutip oleh imam barnabib mengatakan bahwa filsafat itu adalah teori umum dari pendidikan,landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.lebih dari itu memang filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita dan pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan.oleh karena filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengenai realita,maka dikupasah antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup.[3]

Menurut ateng sutarna yang di kutif oleh made pidarta mengatakan bahwa filsafat pendidikan itu merupakan hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai ke akar-akarnya. mengenal pendidikan.ada sejumlah filsafat pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia.namun demikian filsafat menjawab tiga pertanyaan pokok sebagai berikut:

  1. Apakah pendidikan itu?
  2. Apa yang hendak ia capai?
  3. Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan-tujuan itu?

Setelah kita mengamati pertanyaan tersebut maka ada sejumlah pertanyaan yang muncul di benak filosof pendidikan,yang membuat mereka berfikir terus menerus tentang pendidikan sebagaimana dalam tuisan zatin arbi yang dikutip oleh made yang menceritakan tentang maksud filsafat pendidikan sebagai berikut:menginspirasikan,menganalisis,memperspektifkan,menginfestigasi.[4]

Filsafat pendidikan juga secara vital berhubungan dengan semua aspek pengajaran .dengan menempatkan fisafat pendidikan pada tataran praktis ,para guru dapat menemukan berbagai macam pemecahan pada banyak macam masalah pendidikan .lima tujuan filsafat pendidikan dapat mengklarifikasi bagaimana dapat berkontribusi pada pemecahan-pemecahan tersebut.

  • Filsafat pendidikan terikat dengan peletakan suatu perencanaan apa yang dianggap sebagai pendidikan terbaik secara mutlak .
  • Filsafat pendidikan berusaha memberikan arah dengan merujuk pada macam pendidikan yang terbaik dalam sebuah konteks politik ,social dan ekonomi.
  • Filsafat pendidikan dipenuhi dengan koreksi pelanggaran – pelanggaran  prinsip dan kebijakan pendidikan.
  • Filsafat pendidikan memusatkan pada isu-isu dalam kebijakan dan praktek pendidikan yang mensyaratkan resolusi,baik dengan penelitian empiris ataupun pemeriksaan ulang rasional.
  • Filsafat pendidikan melaksanakan suatu inkuiri dalam keseluruhan urusan segala pendidikan dengan suatu pandangan terhadap penilaian,pembenaran,dan pembaharuan sekumpulan suatu pengalaman yang penting untuk pembelajaran yang tinggi. [5]


B.Hubungan Filsafat,Ilmu dan Ilmu Pendidikan
Menurut sikun pribadi yang dikutif oleh made pidarta menggambarkan bahwa hubungan filsafat,filsafat pendidikan ,ilmu pendidikan,ilmu pendidikan praktis,perbutan mendidik,pengaaman mendidik,dan keyakinan pendidik,sebagai berikut:
1.      Filsafat atau filsafat umum atau filsafat Negara menjadi sumber segala kegiatan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga Negara suatu bangsa.
2.      Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat,artinya filsafat pendidikan tidak boleh bertentangan dengan filsafat.
3.      Selanjutnya ilmu pendidikan (yang bersifat teoritis) ada di urutan ketiga,sebab ia dijabarkan dari fisafat pendidikan.disinalah teori pendidikan dirumuskan.
4.      Ilmu pendidikan praktis adalah merupakan konsep-konsep pelaksanaan teori-teori pendidikan diatas.jadi ini dijabarkan dari teori-teori pendidikan.
5.      Pada langkah berikutnya adalah perbuatan mendidik yaitu tindakan –tindakan nyata dalam menerapkan teori pendidikan prakris.
6.      Sebagai akibat dari perbuatan mendidik akan mendapatkan pengalaman tentang mendidik.sudah tentu pengalaman ini didapatkan dilapangan.
7.      Pengalaman ini memberikan umpan balik kepada teori pendidikan yang terdapat dalam ilmu pendidikan,yang memanfaatkannya untuk merevisi teori semula.
8.      Sebagai akibat dari revisi tadi sangat mungkin ilmu pendidikan memberikan umpan balik  kepada filsafat pendidikan ,dan kemungkinan merevisi konsep-konsepnya.
9.      Ilmu pendidikan juga mengadakan kontak hubungan dengan pengalaman – pengalaman  mendidik ,untuk selalu menginggatkan diri agar tidak menyimpang dari teori-teori mendidik.
10.  Sementara itu perbuatan-perbuatan mendidik bisa menimbulkan keyakinan tersendiri tentang pendidikan.suatu keyakinan yang belum tampak pada filsafat,filsafat pendidikan,maupun pada ilmu pendidikan.keyakinan ini memberikan bahan baru kepada filsafat ,untuk difikirkan kembali dan dimasukkan kembali kepada filsafat. [6]      

.



C.Ruang lingkup Fisafat dalam Pendidikan

Objek pengkajian pendidikan dengan mengguanakan pendekatan filosofi adalah semua aspek  pendidikan yang mencakup tujuan,pendidikan,isi pendidikan,metode pendidikan,pendidik anak didik ,keluarga ,masyarakat merupakan kajian yang komprehenshif dari pengkajian filosofi.pengkajian seperti ini disebut pengkajian sinopsis ,yaitu pengkajian yang bersifat merangkum atau mencakup semua aspek pendidikan.taujuan akhir dari pengkajian fiosofi dalam pendidikan adalah merumuskan apa dan bagaimana seharusnya tentang pendidikan .kajian fiosofi berusaha merumuskan apa yang dimaksud dengan pendidikan ,bagaimana seharusnya tujuan pendidikan,bagaimana seharusnya kurikuum dirumuskan/disusun.pengkajian seperti itu disebut dengan pengkajian normatif,karena berkaitan dengan norma-norma,nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan manusia,yang seharusnya terjadi dalam pendidikan yang berlangsung dalam kehidupan[7].  

Sebagaimana fisafat pendidikan pada umumnya maka filsafat pendidikan islam  juga menyagkut pemikiran- pemikiran yang  terkait dengan masalah pendidikan,yakni pendidikan islam .filsafat pendidikan adalah pedoman bagi perancang dan orang-orang yang  bekerja dalam pendidikan dan pengajaran.dengan demikian filsafat pendidikan islam  pada hakikatnya merupakan landasan dasar bagi penyusunan  bagi bangunan sebuah system pendidikan islam itu sendiri.menurut Omar Mohammad al-Thaumy al-Syaibani yang dikutip oleh Jalaludin mengungkapkan pandangan dasarnya dalam prinsip filsafat pendidikan islam.

a).pandangan islam pada jagat raya,dengan meliputi pikiran pendidikan dan tingkah    laku manusia  secara sosial dan kepada alam semesta ini.
b).pandangan islam terhadap manusia.
c).pandangan islam terhadap masyarakat
d).pandangan islam terhadap pengetahuan manusia
e).pandangan islam terhadap akhlak.

Ruang lingkup filsafat pendidikan islam mengacu pada semua aspek yang dianggap mempunyai hubungan dengan pendidikan dalam arti luas .tidak terbatas pada institusi pendidikan formal saja.lapangan pendidikan diluar madrasah (sekolah) seperti lingkungan rumah tangga,lembaga peribadatan,masyarakat,maupun tradisi sosio cultural juga termasuk kajian ruang lingkup filsafat pendidikan islam.bahkan secara lebih rinci,pendidikan prenatal menjadi kajian khusus dalam filsafat pendidikan islam.dengan demikian ruang lingkup filsafat pendidikan islam boleh dikatakan identik dengan keislaman itu sendiri.mencakup semua aspek kehidupan pendidikan.adapun dalam pendekatan proses ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi rentang hingga ke akhir hayatnya.namun kajian ini sama sekali tidak dapat dilepaskan dari status manisia sebagai makhluk ciptaan Allah. [8]
Senada dengan hal demikian menurut nasution yang di kutip oleh Abdullah idi mengatakan bahwa pandangan menyeluruh dan sistematis yang di harapkan dapat dikuasai oleh manusia lebih dari sekedar ilmu pengetahuan juga harus saling berkesinambungan dan pertalian antar unsur  hingga pada akhirnya ditemukan adanya unsur kebijakan ,sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of  knowlage ),filsafat dapat dirumuskan sebagai kajian tentang:
Metafisika,Epistimologi,Aksiologi,Estetika,logika,.[9]

  1. Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam ini.
  2. Epistimoogi ialah filsafat yang membahas tentang tentang pengetahuan dan kebenaran
  3. Logika ialah filsafat yang membahas tentang manusia berfikir dengan benar.
  4. Etika ialah filsafat yang menguraikan tentang periaku manusia.[10]


D.Peranan Filsafat Pendidikan Islam

Dalam rangka membina filsafat pendidikan yang didasari nilai islami ,diperlukan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman seluas pandangan islam baik sebagai agama ataupun sebagai peradaban manusia .disamping itu juga diperlukan pula sikap memihak dan tidak dipersempit oleh fanatisme agama yang dipeluknya ,melainkan bersifat objektiv dan lapang dada dalam menganalisis dan menilai segala bentuk ilmu pengetahuan dan pengalaman yang datang dari luar islam.[11]filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada perencana pendidikan dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan.hal tersebut akan mewarnai perbuatan mereka secara arif dan bijak,menghubungkan pendidikan dengan falsafah umum ,falsafah bangsa dan negaranya.pemahaman filsafat akan pendidikan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba,mencoba-coba tanpa rencana menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.[12]    

Filsafat Pendidikan islam sebagai bagian atau komponen dari suatu system,ia memegang dan mempunyai peranan terentu pada system dimana ia merupakan bagiannya.sebagai cabang ilmu pengetahuan ,maka ia berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.fisafat pendidikan islam banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh pendidikan agama islam dan memberikan pengarahan terhadap perkembagan pendidikan islam.

  1. Fisafat pendidikan islam  berperan dalam menjabarkan tujuan umum pendidikan islam  dalam bentuk-bentuk tujuan yang operasional .dan tujuan operasional ini berperan mengarahkan secara nyata gerak dan aktivitas pelaksanaan pendidikan.
  2. Filsafat islam juga menganalisa terhadap hakikat hidup manusia ,berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan.filsafat pendidikan .
  3. Filsafat pendidikan menganalisa pendidikan islam masa kini yang dihadapinya,akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang ideal,atau tidak..[13]

E.Implikasi Filsafat Terhadap Konsep Pendidikan dan Kurikulum
Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari filsafat atau pandangan hidup manusia,baik secara perorangan maupun keompok.membicarakan tujuan pendidikan yang mencakup dari system dan nilai dan norma-norma dalam suatu konteks kebudayaan,baik dalam mitos ,kepercayaan dan religi,filsafat ,idiologi, dan sebagainya.dalam menentukan tujuan pendidikan ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan[14].seperti halnya yang menjadi tujuan pendidika Nasional yang ada pada UU.Sisdiknas No.20 Tahun .2003,pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dari UUD Dasar Negara RI 1945 yang berkar pada nilai-nilai Agama,kebudayaan nasional Indonesia,dan tanggap terhadap perubahan Zaman.pendidikan nasional sebagaimana diatas,diharapkan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha ESA,berakhlak mulia,sehat ,berilmu,cakap,kreatif,mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis.[15]oleh sebab implikasi konsep pendidikan dibawah adalah penjabaran dari sila-sila pancasila.
1)      Filsafat pendidikan Indonesia harus segera diwujudkan agar ilmu pendidikan bercorak Indonesia lebih mudah dibentuk.kunci terealisasainya suatu kegiatan pada dewasa ini adalah pemerintah.sebab itu dibutuhkan kemauan pemerintah untuk menggerakkan kegiatan ini.
2)      Peranan da pengembangan sila-sila pancasila pada diri peserta didik pada hakekatnya adalah pengembangan afeksi.karena itu pendidikan afeksi tidakboleh dinomerduakan apalagi ditinggalkan.pendidikan afeksi,kognisi,dan psikomotor haruslah diperlakukan sama.
3)      Pendidikan pancasila dan pendidikan agama tidak bertentangan,melainkan saling melengkapi satu dengan yang lainnya.oleh sebab itu sebaiknya para pendidik sils-sils pancasila dan para pendidik ajaran agama bekerja sama dalam kegiatannya membina para peserta didik.suatu kerjasama dalam tingkat operasioal pendidikan moral dan mental anak-anak,agar saling mendukung dan saling memajukan satu dengan yang ain.
4)      Materi pendidikan afeksi selain bersumber dari dari bidang studi yang membahas moral pancasila dan agama,sebaiknya diengkapi dengan nilai-nilai adat istiadat yang masih hidup dinegara idonesia serta budi pekeri yang luhur yang tetap dijunjun dibumi Indonesia ini.
5)      Metode mengembangkan afeksi
-Untuk pendidikan afeksi ang berbentuk bidang studi tekanan belajarnya adalah pada aplikasi konsep-konsep yang dipelajari.
-Untuk pendidikan afeksi yang diselipka pada bidang studi-studi lain,pendidik cukup menyinggung afeksi tertentu yang kebetulan tepat dimunculkan saat itu untuk dipahami peserta didik,dihayati dan diaksanakan.

6)      Evaluasi pendidikannya haruslah dilakuka secara nyata ,
7)      Dalammengembangkan materi sangat mungkin materi pendidikan afeksi,sangat mungkin sumber materi itu berasal dari uar negri.bila hal itu terjadi,maka perlu diadakan penyaringan terlebih dahulu agar bias diterima sesuai dengan budaya Indonesia,sebelum dimasukkan pada materi pendidikan.
8)      Dalam rangka pengembangan afeksi peserta didik,ada baiknya kondisi kearah itu sengaja diciptakan,antara lain dengan menghadirkan jauh lebih banyak budaya bangsa sendiri untuk menetralkan pengaruh budaya asing yang memang sulit dibendung dalam aban informasi dan global ini.[16]
Masing-masing definisi dengan penekanannya tersebut akan mempunyai implikasi pada pengembangan kurikulum.kurikulum yang menekankan pada isi bertolak dari asumsi bahwa masyarakat bersifat statis,sedangkan pendidikan berfungsi memelihara dan mewariskan pengetahua,konsep pendidikan dan nilai-nilai yang telah ada baik nilai ilahi atau insani.karena itu kurikulum biasanya ditentukan ileh sekelompok ahli,disusun secara sistematis dan logis sesuai dengan disiplin-disiplin ilmu atau sistematisasi ilmu yang dianggap mapan ,tanpa melibatkan guru/dosen apalagi peserta didik/mahasiswa.fungsi guru/dosen adalah sebagai penjabar atau penjelas dan pelaksana dalam pembelajaran baik dalam hal isi,metode maupun evaluasi.guru /dosen berperan senagai penyampai informasi atau sebagai model dan ahli dalam disiplin ilmu.peran peserta didik bersifat pasif,sebagai penerima informasi dan tugas dari guru/dosen.
Sedngkan kurikulum yang menekankan pada proses atau pengalaman bertolak dari asumsi bahwa peaerta didik sejak dilahirkan  telah memiiki potensi-potensi,baik potensi untuk berfikir,berbuat,memecahkan masalah,maupun untuk belajar dan berkembang sendiri.fungsi pendidikan adalah menciptakan situasi dan lingkungan yang menunjang potensi-potensi tersebut.karena itu kurikulum dikembangkan dengan bertolak pada kebutuhan dan minat peserta didik[17].dengan demikian sudah bisa secara jelas digambarkan bahwa kedudukan filsafat dalam prosesi pengembangan kurikulum pendidikan memberikan sumbangsih yang sangat luar biasa dalam hal penyusunan konsep pendidikan yang telah difikir secara mendalam yang menjadi kebutuhan dalam pendidikan bangsa ini, yakni dalam penentuan arah kebijakan yang harus diambil dan dijalankan dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa dengan asas nilai-nilai dan budaya yang dimiliki bangsa ini yang harus dilestarikan dan dimasukkan dalam hal pertimbagan dasar dalam kurikulum. Sehingga dengan demikian dalam menyusun kurikulum  atau program pendidikan berisikan dari problem-prolem yang ada dimasyarakat sebagai isi dari pendidikan.

SIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan merupakan salah satu disiplin ilmu yang berperan aktif dalam perkembangan pendidikan. Secara  kajian sebagai induk  dari segala ilmu pengetahuan (the mother of  knowlage ) yang berartikan bahwa:   

1.      Filsafat memberikan arah & metodologi terhadap praktek pendidikan; praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat
2.      Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan
3.      Filsafat merupakan bunga, bukan akar pendidikan
4.      Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari kontak dengan filsafat, tetapi kontak tersebut tidak penting
5.      Filsafat dan teori pendidikan menjadi satu




















DAFTAR PUSTAKA
Arifin,Muzayyin,Filsafat Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara,2009.
Barnadib,Imam,Filsafat Pendidikan,Yogyakarta:FIP,1985.
Idi ,Abdullah,Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik,(Jogyakarta:Ar Ruz Media,2009.
Jalaluddin,Filsafat Pendidikan Islam,Palembang:Gravika Teindo Press,2009.
Muhaimin,Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,Madrasah,dan Perguruan Tinggi,Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2009.
Pidarta,Made,Landasan Kependidikan,Jakarta:Rineka Cipta,2007.
Sadulloh,Ahmad,Pengantar Filsafat Pendidikan,Bandung:Alfabeta,2009.
Tafsir,Ahmad,Filsafat Ilmu,Bandung:Remaja Rosdakarya,2004.
Zuhairini,Filsafat Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara,2008.













 
Pendidikan Agama Islam © 2011 Theme made with the special support of Maiahost for their cheap WordPress hosting services and free support.