Media Pembelajaran Orang Dewasa

Menurut Leshin, Pollock & Reigeluth (1992) media diklasifikasikan ke dalam 5 kelompok yang salah satunya yaitu, Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main-peran, dan kegiatan kelompok). Dan disini dalam konsep pendidikan orang dewasa tutor berperan sebagai media pembelajaran. Tutor sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran orang dewasa. Tutor memasuki kelas dengan bekal sejumlah pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman ini seharusnya melebihi dari yang dimiliki oleh peserta. Seorang tutor dengan pengetahuan dan pengalamannya itu tidaklah cukup untuk membuat peserta untuk berperilaku belajar dalam kelas melainkan sikap tutor sangatlah penting. Seorang tutor bukan merupakan “pemaksa” untuk terjadinya pengaruh terhadap peserta, namun pengaruh itu timbul karena adanya keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar. Untuk mengusahakan adanya perubahan, tutor hendaknya bersikap positif terhadap warga belajar.
Sikap seorang tutor mempunyai arti dan pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku warga belajar dalam kegiatan pembelajaran. Umumnya tutor yang memiliki daya tarik akan lebih efektif dari pada tutor yang tidak menarik. Sikap menyenangkan yang ditampilkan oleh tutor akan ditanggapi positif oleh peserta, pada gilirannya berpengaruh terhadap intensitas perilaku belajarnya. Sebaliknya, fasilitator yang menampilkan sikap tidak menyenangkan akan dinilai negatif oleh peserta, sehingga mengakibatkan kegiatan belajar menjadi tidak menyenangkan. Menurut Carl Rogers seorang ahli ilmu jiwa humanistik, peserta belajar dan fasilitator hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai diri mereka melalui kelompok yang lebih intensif. Pendekatan ini lebih dikenal dengan istilah latihan sensitivitas: kelompok, group, workshop intensif, hubungan masyarakat. latihan sensitivitas dimaksudkan untuk membantu peserta belajar berbagai rasa dalam penjajagan sikap dan hubungan interpersonal di antara mereka. Rogers menanamkan sistem tersebut sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar. Pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar pada hakekatnya merupakan versi terakhir dari metode penemuan (discovery method).

Rogers mengemukakan adanya tiga unsur yang penting dalam belajar berpengalaman (experimental learning), yaitu:
(a) Peserta belajar hendaknya dihadapkan pada masalah nyata yang ingin ditemukan pemecahannya.
(b) Apabila kesadaran akan masalah telah terbentuk, maka terbentuk pulalah sikap terhadap masalah tersebut.
(c) Adanya sumber belajar, baik berupa manusia maupun berbentuk bahan tertulis atau tercetak.

Contohnya dalam kegiatan pembelajaran orang dewasa yaitu, guru SD yang diberikan pengajaran keterampilan teknologi mengenai bagaimana melakuakan perawatan pada computer dan memproduksi CD pembelajaran. Disini guru tersebut diposisikan belum pernah sama sekali mendapatkan pengetahuan mengenai teknologi, karena mereka hanyalah guru SD yang dulunya belum pernah mendapatkan pelajaran mengenai teknologi. Dan dalam proses pembelajarannya mereka secara sengaja diceburkan dalam sebuah kondisi dimana mereka harus “berbuat” dan “bekerja” karena orang dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih baik lagi kalau di samping itu ia dapat melihat pula, dan makin efektif lagi kalau dapat juga mengerjakan.
Guru SD tersebut akan belajar langsung dari kesalahan dan permasalahan yang ditemui ketika mengerjakan tugas, tanpa harus diberikan ceramah panjang lebar. Dalam pelatihan, mereka bekerja berdasarkan lembar instruksi dan lembar kerja yang diberikan. Mereka diwajibkan untuk menyelesaikan setiap tugas yang ada pada lembar-lembar tersebut. Dalam mengerjakan tugas, mereka diberikan beberapa sumber belajar yang digunakan sebagai media pembelajaran berupa buku, video dan software untuk membantunya mengatasi permasalahan dan menjawab setiap pertanyaan. Ketika mereka mengerjakan tugas, fasilitator selalu mendampingi mereka dan selalu siap sedia menjawab pertanyaan seputar apa yang tengah mereka kerjakan. Peserta, dengan bekerja dalam kelompok akan leluasa untuk belajar dan bertanya kepada rekan sejawatnya, yaitu peserta lain yang memiliki kemampuan dan keterampilan lebih. Setelah proses pekerjaan selesai, maka dilakukanlah tanya jawab, diskusi dan refleksi untuk memberi kesempatan berbagi pengetahuan, berpendapat, dan memberikan penguatan teori terhadap materi yang disampaikan sehingga tercapailah tujuan pembelajaran

sumber : http://e-learning-teknologi.blogspot.com/2012/12/menurut-leshin-pollock-reigeluth-1992.html

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Pendidikan Agama Islam © 2011 Theme made with the special support of Maiahost for their cheap WordPress hosting services and free support.