Gambaran Pendidikan Pada Masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam amat penting, terutama bagi pelajar-pelajar agama islam dan pemimpin-pemimpin islam. Dengan mempelajari Sejarah Pendidikan Islam kita dapat mengetahui sebab kemajuan dan kemunduran islam baik dari cara didikannya maupun cara ajarannya. Khusunya pendidikan islam pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Sebelum membahas melebar mengenai pendidikan Islam terlebih dahulu ada baiknya kita mengetahui sejarah pendidikan Islam pada masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin.karena pada periode-periode inilah pendidikan terbaik berproses. Rasulullah merupakan pendidik ideal pertama yang teladan dan mtodenya sangat urgen untuk dikaji dan dipelajari terutama dalam dunia pendidikan Islam. Hal tersebut disebabkan posisi pendidik dalam pengelolaan dan pengembangan pendidikan berada di garda terdepan.
Sejarah Pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terdapat dua periode. Yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Yang mana pada periode Makkah, Nabi Muhammad lebih menitik beratkan pembinaan moral dan akhlak serta tauhid kepada masyarakat Arab yang bermukim di Makkah dan pada peroide di Madinah Nabi Muhammad SAW melakukan pembinaan di bidang sosial politik. Disinilah pendidikan islam berkembang pesat.
1.2 Rumusan masalah:
1.      Bagaimana gambaran pendidikan Rasulullah pada periode Makkah?
2.      Bagaimana gambaran pendidikan Rasulullah pada periode Madinah?
3.      Bagaimana gambaran pendidikan pada masa Khulafaur rasyidin?
1.3 Tujuan masalah:
1.      Ingin memahami gambaran pendidikan Rasulullah pada periode Makkah.
2.      Ingin memahami gambaran pendidikan Rasulullah pada periode Madinah.
3.      Ingin memahami gambaran pendidikan pada masa Khulafaur rasyidin.


BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH DAN SAHABAT
1.Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah
Pendidikan islam pada masa Rasulullah dapat dibedakan menjadi 2 periode:
  1. Periode Makkah, yaitu sebagai fase awal pembinaan pendidikan Islam, dengan Makkah sebagai pusat kegiatannya.
  2. Periode Madinah, sebagai fase lanjutan (penyempurnaan/ pembinaan) pendidikan Islam dengan Madinah sebagai pusat kegiatannya.
  1. Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah di Makkah
Sebelum Muhammad memulai tugasnya sebagai Rasul, yaitu melaksanakan pendidikan terhadap umatnya, Allah telah terlebih dahulu mendidiknya dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas secara sempurna melalui pengalaman, pengenalan serta peran sertanya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya. Dengan potensi fitrahnya yang luar biasa, ia mampu menyesuaikan dirinya dengan masyarakat lingkungannya, namun tidak larut sama sekali ke dalamnya, dan hanyut terhadap arus budaya masyarakat waktu itu, justru ia mampu menemukan mutiara-mutiara Ibrahim yang telah tenggelam dalam lumpur budaya masyarakat tersebut.
Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu dari Allah SWT, beliau sering melakukan tradisi yang ada di dalam masyarakatnya yang merupakan warisan Ibrahim, yaitu bertahannus dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bertapa dan berdo’a agar diberikan rejeki dan pengetahuan di Gua Hira’ sampai akhirnya ia  menerima wahyu yang pertama di Gua Hira tersebut di Makkah pada tahun 610 M.dalam wahyu itu termaktub ayat al-qur’an“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam). Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu maha pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.
Kemudian disusul oleh wahyu yang kedua termaktub ayat al-qur’an yang artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah. dan perbuatan dosa tinggalkanlah. dan janganlah kamu member (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
Dengan turunnya wahyu itu Nabi Muhammad SAW telah diberi tugas oleh Allah, tentang apa yang harus ia lakukan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap umatnya. Itulah petunjuk awal kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau memberikan peringatan dan pengajaran kepada seluruh umat manusia, sebagai tugas suci, tugas mendidik dan mengajarkan islam. Kemudian bahan/ materi pendidikan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur dan sedikit demi sedikit. Setiap kali  menerima wahyu ia sampaikan kepada umatnya, diiringi penjelasan-penjelasan dan contoh-contoh bagaimana pelaksanaannya. Semuanya itu disampaikan dan diajarkan oleh Nabi, mula-mula kepada karib kerabatnya dan teman sejawatnya dengan sembunyi-sembunyi.
Setelah banyak orang memeluk islam, lalu Nabi menyediakan rumah Al- Arqam bin Abil Arqam untuk tempat pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya. di tempat itulah pendidikan islam pertama dalam sejarah pendidian islam. Disanalah Nabi mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) alqur’an kepada para pengikutnya serta Nabi menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama islam atau menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Bahkan disanalah Nabi beribadah (sholat) bersama sahabat-sahabatnya.
Da’wah Islamiyah yang dilakukan nabi secara sembunyi-sembunyi tersebut berlangsung selama 3 tahun lamanya, sampai akhirnya turunlah wahyu untuk menyuruh kepada Nabi supaya menyiarkan agama islam kepada seluruh penduduk jazirah Arab dengan terang-terangan. Nabi melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Banyak tantangan dan penderitaan yang diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya. Nabi tetap melakukan penyiaran islam dan mendidik sahabat-sahabatnya dengan pendidikan islam.
Beberapa di bawah ini garis-garis besar pendidikan pada periode Makkah:
1.        Pendidikan Tauhid, Dalam Teori dan Praktek.
Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulannya berhadapan dengan nilai-nilai warisan Ibrahim yang telah banyak menyimpang dari yang sebenarnya. Inti warisan tersebut adalah ajaran tauhid. Tetapi ajaran tersebut telah pudar dalam budaya masyarakat bangsa Arab Jahiliyyah. Penyembahan terhadap berhala-berhala menyelimuti ajaran tauhid. Nama Allah sebagai pencipta alam memang masih ada dalam kepercayaan mereka, namun telah bercampur dengan berhala dan sesembahan lainnya. Dan Inilah tugas utama yang diemban Muhammad yaitu, memancarkan kembali sinar tauhid dalam kehidupan umat manusia umumnya. Dan inilah intisari pendidikan Islam pada masa/ periode Makkah.
Intisari pendidikan tauhid yang diberikan Nabi Muhammad pada waktu itu adalah yang tercermin dari surat Fatihah. Yang isinya bahwa Allah SWT adalah pencipta alam semesta yang sebenarnya dan satu-satunya yang mengatur alam semesta, Allah adalah yang telah memberikan ni’mat dan segala keperluan makhluk-Nya, Allah sebagai raja di hari kemudian, Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan Allah lah yang sebenarnya membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia.
Itulah intisari ajaran tauhid yang dibawa oleh Muhammad yang akan dididikkannya pada umatnya. Pelaksanaan tauhid tersebut jelas-jelas bertentangan dengan praktek kehidupan sehari-hari umatnya, sehingga wajarlah nabi Muhammad pertama kali mendapatkan tantangan yang hebat dari masyarakat Arab waktu itu. Dan itulah yang menjadi alasan Nabi melakukan da’wah secara sembunyi-sembunyi pada dakwah tahap pertama.
Praktek pendidikan tauhid tersebut diberikan nabi Muhammad kepada umatnya dengan cara bijaksana, dengan menuntun akal fikiran untuk mendapatkan dan menerima pengertian tauhid yang diajarkan, dan sekaligus memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara konkrit. Kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya.
Intinya pendidikan dan pengajaran yang diberikan Nabi selama di Makkah ialah pendidikan keagamaan dan akhlak serta menganjurkan kepada manusia, supaya mempergunakan akal pikirannya memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta seagai anjuran pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah.
2.        Pendidikan Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan intisari dan sumber pokok dari ajaran Islam yang disampaikan oleh Muhammad SAW  kepada umatnya.  Tugas Muhammad disamping mengajarkan tauhid kepada umatnya juga mengajarkan al-Qur’an kepada umatnya, agar secara utuhsempurna menjadi milik umatnya, yang selanjutnya akan menjadi warisan ajaran secara turun temurun, dan menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi kaum Muslimin spanjang hidup.
Diantara factor yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW mengajarkan al Qur’an adalah dikarenakan pada waktu itu bangsa Arab dikenal sebagai masyarakat yangummi, yang pada umumnya tidak dapat membaca dan menulis. Hanya beberapa saja yang mampu membaca dan menulis memberikan indikasi bahwa baca tulis belum membudaya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ini dikarenakan tradisi budaya mereka berupa tradisi budaya lisan , yaitu system pewarisan budaya melalui lisan atau hafalan. Sehingga mereka terkenal sebagai orang-orang yang kuat hafalan.
Dibawah ini beberapa metode yang dipakai Nabi dalam mengajarkan al-Qur’an:
a.         Membacakan secara langsung ayat (wahyu) yang turun dari Allah. Kemudian belia memerintahkan kepada sahabat untuk mmbaca ulang dan menghafalkannya sesuai benar dengan yang telah dibacakan nabi. Setelah itu Nabi memrintahkan para sahabat yang pandai menulis  untuk menulis ayat tersebut.
b.        Melakukan mudarasah dan tadarus al-Qur’an di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Ini dilakukan nabi ketika beliau masih da’wah secara sembunyi-sembunyi.
c.         Menganjurkan hafalan terhadap ayat (wahyu ) tiap kali dibacakan oleh Nabi, dan melakukan ulangan terhadap hafalan para sahabat tersebut dan membenarkannya hafalan dan bacaan mereka.
Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, menyatakan bahwa pembinaan pendidikan islam pada masa Makkah meliputi:
1.        Pendidikan Keagamaan Yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata jangan dipersekutukan dengan nama berhala.
2.        Pendidikan Aqliyah dan Ilmiah Yaitu mempelajari kejadian manusiadari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
3.        Pendidikan Akhlak dan Budi pekerti Yaitu Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
2.        Pendidikan Jasmani atau KesehatanYaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman.
  1. Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah di Madinah
Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari tantangan  kaum Quraisy dan penduduk Makkah yang menolak ajaran Muhammad, akan tetapi juga mengandung maksud lain yaitu mengatur potensi dan menyusun kekuatan dalam menghadapi tantangan-tantangan selanjutnya.
Kedatangan nabi ke Madinah disambut baik oleh masyarakat di sana, di sana Islam memiliki lingkungan baru yang bebas dari ancaman kaum Quraisy, namun lingkungan ini bukan berarti benar-benar baik dan bebas dari segala permasalahan. Justru di sini Rasul mendapatkan permasalahan-permasalahn baru, yaitu 1) kenyataan bahwa kaumnya terdiri dari dua kelompok yang berbeda. Yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. 2) Kaum yang baru islam di Madinah hidup bersanding dengan kaum Yahudi Yatsrib (Madinah) yang tidak senang terhadap terbentuknya masyarakat baru kaum Muslimin.
Berbeda dengan periode di Makkah, pada periode Makkah pembinaan pendidikan lebih fokus terhadap pendidikan tauhid, maka pada periode Madinah ini ciri pokok pembinaan pendidikan Islam dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Tetapi asebenarnya kedua ciri tersebut bukanlah merupakan ciri yang bisa dipisahkan satu sama lain. Kalau pendidikan di Makkah titik beratnya adalah penanaman nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa tiap individu Muslim agar dari jiwa mereka terpancar dikap sinar tauhid dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Sedangkan pendidikan di Madinah merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan bidang pendidikan sosial dan politik yang dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga akhirnya tingkah laku sosial politiknya merupakan cerminan sinar tauhid tersebut. Ajaran islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah.
Cara Nabi melakukan pembinaan dan pengajaran pendidikan agama islam di Madinah adalah sebagai berikut:
  1. Pembentukan dan Pembinaan Masyarakat Baru, Menuju Satu Kesatuan Sosiopolitik.
Nabi Muhammad SAW mulai meletakkan dasar-dasar terbentuknya masyarakat yang bersatu padu secara intern (ke dalam), dan ke luar diakui dan disegani oleh masyarakat lainnya (sebagai satu kesatuan politik). Dasar-dasar tersebut adalah:
  1. Nabi Muhammad saw mengikis habis sisa-sisa permusuhan dan pertentangan antatrsuku, dengan jalan mengikat tali persaudaraan diantara mereka.nabi mempersaudarakan dua-dua orang, mula-mula diantara sesama Muhajirin, kemudian diantara Muhajirin dan Anshar. Dengan lahirnya persaudaraan itu bertambah kokohlah persatuan kaum muslimin.
  2. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nabi Muhammad menganjurkan kepada kaum Muhajirin untuk berusaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekerjaan masing-masing seperti waktu di Makkah.
  3. Untuk menjalin kerjasama dan saling menolong dalam rangka membentuk tata kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, turunlah syari’at zakat dan puasa, yang merupakanpendidikan bagi warga masyarakat dalam tanggung jawab sosial, baik secara materil maupun moral.
  4. Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyari’atkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat juma’t yang dilaksanakan secara berjama’ah dan adzan. Dengan sholat jum’at tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengar khutbah dari Nabi Muhammad SAW dan shalat jama’ah jum’at.
Setelah selesai Nabi Muhammad mempersatukan kaum muslimin, sehingga menjadi bersaudara, lalu Nabi mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi, penduduk Madinah. Dalam perjanjian itu ditegaskan, bahwa kaum Yahudi bersahabat dengan kaum muslimin, tolong- menolong , bantu-membantu, terutama bila ada seranga musuh terhadap Madinah. Mereka harus memperhatikan negri bersama-sama kaum Muslimin, disamping itu kaum Yahudi merdeka memeluk agamanya dan bebas beribadat menurut kepercayaannya. Inilah salah satu perjanjian persahabatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
  1. Pendidikan Sosial Politik dan Kewarganegaraan.
Materi pendidikan sosial dan kewarnegaraan islam pada masa itu adalah pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam konstitusi Madinah, yang dalam prakteknya diperinci lebih lanjut dan di sempurnakan dengan ayat-ayat yang turun Selama periode Madinah.
Tujuan pembinaan adalah agar secara berangsur-angsur, pokok-pokok pikiran konstitusi Madinah diakui dan berlaku bukan hanya di Madinah saja, tetapi luas, baik dalam kehidupan bangsa Arab maupun dalam kehidupan bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Pelaksanaan atau praktek pendidikan social politik dan kewarganegaraan secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.    Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antar kaum Muslimin.
2.    Pendidikan kesejahteraan social.
3.    Pendidikan kesejahteraan keluarga.
  1. Pendidikan Anak Dalam Islam
Dalam islam, anak merupakan pewaris ajaran islam yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad saw dan generasi muda muslimlah yang akan melanjutkan misi menyampaikan islam ke seluruh penjuru alam. Oleh karenanya banyak peringatan-peringatan dalam Al-qur’an berkaitan dengan itu. Diantara peringatan-peringatan tersebut antara lain:
·       Pada surat At-Tahrim ayat 6 terdapat peringatan agar kita menjaga diri dan anggota keluarga (termasuk anak-anak) dari kehancuran (api neraka)
·       Pada surat An-Nisa ayat 9, terdapat agar janagan meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya menghadapi tantangan hidup.
·       Pada surat Al-Furqan ayat 74, Allah SWT memperingatkan bahwa orang yang mendapatkan kemuliaan antara lain adalah orang-orang yang berdo’a dan memohon kepada Allah SWT, agar dikaruniai keluarga dan anak keturunan yang menyenangkan hati.
Adapun garis-garis besar materi pendidikan anak dalam islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Luqman ayat 13-19 adalah sebagai berikut:
1.    Pendidikan Tauhid
2.    Pendidikan Shalat
3.    Pendidikan adab sopan dan santun dalam bermasyarakat
4.    Pendidikan adab dan sopan santun dalam keluarga
5.    Pendidikan kepribadian
6.    Pendidikan kesehatan
7.    Pendidikan akhlak.
Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, menyatakan bahwa intisari pendidikan islam pada periode Madinah meliputi:
1.    Pendidikan keagamaan yang meliputi keimanan dan ibadat (sholat, puasa, zakat, haji)
2.    Pendidikan akhlak
3.    Pendidikan kesehatan (jasmani)
4.    Syaria’ay-syari’at yang berhubungan dengan masyarakat.
  1. Kurikulum Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah SAW
Mengindentifikasikan kurikulum pendidikan pada zaman Rasulullah terasa sulit, sebab Rasul mengajar pada sekolah kehidupan yang luas tanpa di batasi dinding kelas. Rasulullah memanfaatkan berbagai kesempatan yang mengandung nilai-nilai pendidikan dan rasulullah menyampaikan ajarannya dimana saja seperti di rumah, di masjid, di jalan, dan di tempat-tempat lainnya.
Sistem pendidikan islam lebih bertumpu kepada Nabi, sebab selain Nabi tidak ada yang mempunyai otoritas untuk menentukan materi-materi pendidikan islam. Dapat dibedakan menjadi dua periode:
  1. Makkah
·       Materi yang diajarkan hanya berkisar pada ayat-ayat Makiyyah sejumlah 93 surat dan petunjuk-petunjuknya yang dikenal dengan sebutan sunnah dan hadits.
·       Materi yang diajarkan menerangkan tentang kajian keagamaan yang menitikberatkan pada keimanan, ibadah dan akhlak.
  1. Madinah
·       upaya pendidikan yang dilakukan Nabi pertama-tama membangun lembaga masjid, melalui masjid ini Nabi memberikan pendidikan islam.
·       Materi pendidikan islam yang diajarkan berkisar pada bidang keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan jasmanai dan pengetahuan kemasyarakatan
·       Metode yang dikembangkan oleh Nabi adalah:
a.    Dalam bidang keimanan: melalui Tanya jawab dengan penghayatan yang mendalam dan di dukung oleh bukti-bukti yang rational dan ilmiah.
b.    Materi ibadah: disampaikan dengan metode demonstrasi dan peneladanan sehingga mudah didikuti masyarakat.
c.    Bidang akhlak: Nabi menitikberatkan pada metode peneladanan. Nabi tampil dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan baik dalam ucapan maupun perbuatan.

  1. Kebijakan Rasulullah Dalam Bidang Pendidikan
Untuk melaksanakan fungsi utamanya sebagai pendidik, Rasulullah telah melakukan serangkaian kebijakan yang amat strategis serta sesuai dengan situasi dan kondisi.
Proses pendidikan pada zaman Rasulullah berada di Makkah belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal yang demikian belum di mungkinkan, kaena pada saat itu Nabi Muhammmad belum berperan sebagai pemimpin atau kepala Negara, bahkan beliau dan para pengikutnya berada dalam bayang-bayang ancaman pembunuhan dan kaum kafir quraisy. Selama di Makkah pendidikan berlangsung dari rumah ke rumah secara sembunyi-sembunyi. Diantaranya yang terkenal adalah rumah Al- Arqam. Langkah yang bijaka dilakukan Nabi Muhammad SAW pada tahap awal islam ini adalah melarang para pengikutnya untuk menampakkan keislamannya dalam berbagai hak.tidak menemui mereka kecuali dengan cra sembunyi-sembunyi dalam mendidik mereka.
Setelah masyarakat islam terbentuk di Madinah barulah, barulah pendidikan islam dapat berjalan dengan leluasa dan terbuka secara umum.dan kebijakan yang telah dilakukan Nabi Muhammmad ketika di Madinah adalah:
a.         Membangun masjid di Madinah. Masjid inilah yang selanjutnya digunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan dakwah.
b.        Mempersatukan berbagai potensi yang semula saling berserakan bahkan saling bermusuhan. Langkah ini dituangkan dalam dokumen yang lebih popular disebut piagam Madinah. Dengan adanya piagam tersebut terwujudlah keadaan masyarakat yang tenang, harmonis dan damai.
E.     Lembaga-lembaga Pendidikan Pada Masa Rasulullah SAW
1.Masjid
Seperti yang sudah kami jelaskan, bahwa tempat pendidikan pertama kali dalam sejarah Islam merupakan rumah Darul Arqam bin abi al-Arqam. Karena rumah itulah yang menjadi tempat pertama berkumpulnya Nabi dan para sahabat guna mendiskusikan asas-asas dan dasar agama Islam ketika masih sembunyi-sembunyi. Kemudian setelah itu masjid menjadi lembaga Islam kedua setelah Darul arqam. Masjid dapat dikatakan sebagai madrasah yang berukuran besar yang pada masa permulaan sejarah Islam dan masa-masa selanjutnya adalah merupakan tempat menghimpun kekuatan umat Islam, baik dari segi fisik maupun mentalnya.
Rasulullah membangun ruangan disebelah utara masjid Madinah dan masjid al-Haram yang disebut “ash-Shuffah” untuk tempat tinggal orang-orang fakir miskin yang tekun mempelajari ilmu. Mereka dikenal sebagai “ahlus-suffah
Fungsi masjid pada waktu itu, diantarannya:
1.    Tempat beribadah atau sembahyang.
2.    Tempat berdiskusi dan melakukan kajian-kajian ke-Islaman
3.    Tempat mengkaji permasalahan da’wah Islamiyah (menegenai siasat dalam menghadapi musuh)
2.   Kuttab
Munculnya lembaga kuttab ini dapat ditelusuri sampai kepada zaman Rasulullah sendiri. Al-Kuttab memiliki peran yang sangat besar pada permulaan sejarah Islam ketika Nabi SAW memerintahkan para tawanan perang Badar yang dapat menulis dan membaca untuk mengajar sepuluh anak Madinah (bagi setiap tawanan).
Dalam hal ini Prof. Dr. Ahmad Syallabi mengatakan dalam kitab “Tarikh at-Tarbiyah al-Islamiyah” yang mengutip dari pendapat ahli orientalis Barat, Goldzihir yang mengatakan bahwa timbulnya al-Kuttab yang bertugas pokok mengajarkan al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam muncul pada zaman permulaan sejarah Islam, yaitu pada zaman pemerintahan khalifah Abu Bakar. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa sumber. Sedangkan Prof. Dr. Ahmad Syallabi sendiri berpendapat, bahwa al-Kuttab yang berkembang lebih awal pada masa permulaan Islam adalah al-Kuttab yang khusus mengajarkan membaca dan menulis, sedangkan al-Kuttab yang mengajarkan al-Qur,an tumbuh pada masa-masa selanjutnya.
2Pendidikan Islam Pada Masa Khulafa al-Rasyidin
Tahun-tahun pemerintahan Khulafa al-Rasyidin merupakan perjuangan terus menerus antara hak yang mereka bawa dan dakwahkan kebatilan yang mereka perangi dan musuhi. Pada zaman khulafa al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkanAl-Qur’an dan Sunnah di ibu kota khilafah di Makkah, di Madinah dan di berbagai negri lain yang ditaklukan oleh orang-orang islam.
Berikut penguraian tentang pendidikan Islam pada masa Khulafa al- Rasyidin:
  1. Masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Pada masa ini kegiatan pengajaran hadits lebih meningkat, selain untuk kepentingan pemeliharaan perbendaharaan hadist juga sangat dibutuhkan untuk kepentingan dasar penafsiran al-Qur’an untuk memperoleh suatu ketetapan hukum. Dari kegiatan itu kemudian muncul dan berkembanglah ilmu hadist dengan cabang-cabangnya. Pengajaran pada saat itu tidak berbeda dengan zaman Nabi, hanya usaha perluasan dan pengembangan ilmu yang sudah mulai nampak.
Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan KuttabKuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul terdekat.]
Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya.
  1. Masa Khalifah Umar bin Khattab
Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.
Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.
Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.
  1. Masa Khalifah Usman bin Affan.
Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Pada masa ini umat Islam tersebar luas yang mana mereka membutuhkan pemahaman al-Qur’an yang mudah dimengerti dan dijangkau. Oleh karena itu, mereka membutuhkan tafsir al-Qur’an dan sejarah turunnya ayat al-Qur’an. Dengan demikian akan memberi kemudahan dalam mengambil ketetapan hokum. Peranan Hadist Rasul juga sangat penting untuk membantu dan menjelaskan al-Qur’an. Yang mana saat ini hadist belum ditulis orang, penyampainnya dilakukan dengan cara meriwayatkan atau memberitakan melalui lisan guru kepada muridnya. Dari penyampaian hadist tersebut timbullah bermacam-macam cabang ilmu hadist. Pengambilan ketetapan hokum dari al-Qur’an dan hadist menimbulkan ilmu Fiqh. Jadi, pada masa Ustman penyebaran ilmu sangat luas dan bercabang-cabang meskipun masih dalam bentuk yang masih sederhana.
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa ini diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah. Adapun objek pendidikan pada masa itu terdiri dari:
1.        Orang dewasa dan orang tua yang baru masuk Islam.
2.        Anak-anak, baik orang tuanya telah lama memeluk Islam maupun yang baru memeluk Islam.
3.        Orsng dewasa dan orang tua yang telah lama memeluk Islam.
4.        Orang yang mengkhususkan dirinya menuntut ilmu agama-agama secara luas dan mendalam.
Dari empat golongan terdidik tersebut, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran tidak mungkin dilakukan dengan cara menyamaratakan, tapi harus diadakan pengklasifikasian yang rapi dan sistematis, disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupan dari yang dididik sendiri. Dapat diperkirakanbahwa metode yang digunakan untuk golongan pertama selain ceramah juga hafalan dan latihan dengan mengemukakan contoh dan pengarang. Bagi golongan kedua diperlukan metode hafalan dan latihan. Sedang bagi golongan ketiga selain menggunakan metode ceramah juga diskusi, Tanya jawab dan hafalan.pendidikan dan pengajaran untuk golongan ini bersifat pematangan dan pendalaman.
Mata pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dengan mendahulukan ilmu pengetahuan yang sangat  mendesak untuk dijadikan pendoman hidup beragama. Ada dua fase, yaitu fase pembinaan, yang dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang dididik untuk memantapkan iman, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah di Makkah. Dan fase pendidikan, yang dalam fase ini lebih menekankan pada ilmu-ilmu praktis dengan maksud agar mereka bias mengamalkan ajaran dan tuntunan agama. Selain itu pelajaran tunjangan untuk memahami al-Qur’an dan Hadist adalah dengan memberikan pelajaran bahasa Arab dan segala perlengkapannya: membaca, menulis, tata  bahasa, syair dan peribahasa.
Pada masa ini pembelajaran masih pada tempat-tempat seperti pada masa-masa sebelumnya, yaitu di Kuttab, masjid dan rumah-rumah yang disediakan.
  1. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.
1.    Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin di antaranya adalah makkah, madinah, basrah, kuffah, damsyik (syam), dan Mesir.
  1. Kurikulum Pendidikan Islam Masa Khulafa Al-Rasyidin (632-661M./ 1241H)
Sistem pendidikan islam pada masa khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri,tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin al;khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab.
Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:
a.    Membaca dan menulis
b.    Membaca dan menghafal Al-Qur’an
c.    Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya
Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:
a.    Berenang
b.    Mengendarai unta
c.    Memanah
d.   Membaca dan menghapal syair-syair yang mudah dan peribahasa.
Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:
a.    Al-qur’an dan tafsirnya
b.    Hadits dan pengumpulannya
c.    Fiqh (tasyri’)




BAB III
KESIMPULAN
ü  Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Makkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim, agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
ü  Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Madinah dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran , merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.
ü  Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Unar bin Khattab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana pada masa khalifah Umar, guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukan. Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah di bolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar.pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.





DAFTAR RUJUKAN
1.      Arief,Armai, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik. Bandung: Penerbit Angkasa,2005.
2.      Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Husna, 1988.
3.      Nata, Abuddin, Pendidikan Islam Perspektif Hadits. Ciputat: UIN Jakarta Press, 2005
4.      Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008
5.      Yunus , Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992
6.      Zuhairini,dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,cet.9,2008

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Pendidikan Agama Islam © 2011 Theme made with the special support of Maiahost for their cheap WordPress hosting services and free support.